Sejak 2002, Pusat Studi Sunda melakukan kajian kritis dan interdisipliner terhadap bahasa, sastra, dan budaya Sunda — melalui penelitian, dokumentasi, penerbitan, dan pengelolaan Perpustakaan Ajip Rosidi — agar warisan budaya Sunda tetap hidup dalam konteks budaya global.
Pusat Studi Sunda (PSS) berdiri sebagai tindak lanjut rekomendasi Konferensi Internasional Budaya Sunda ke-1 (KIBS 1) yang diselenggarakan Yayasan Kebudayaan Rancagé di Bandung. Didirikan oleh Ajip Rosidi bersama para budayawan dan akademisi Sunda, PSS menjadi rumah bagi penelitian, perpustakaan, dan penerbitan kesundaan.
KIBS 1 digelar di Bandung (22–25 Agustus) dan merekomendasikan pendirian sebuah pusat kajian kesundaan.
Pusat Studi Sunda resmi berdiri, didirikan antara lain oleh Ajip Rosidi, Edi S. Ekadjati, A. Chaedar Alwasilah, dan Dodong Djiwapradja.
PSS berkegiatan di Jl. Karawitan No. 46, kemudian Jl. Taman Kliningan II No. 5, sambil merintis perpustakaan dan jurnal Sundalana.
Perpustakaan Ajip Rosidi diresmikan di Jl. Garut No. 2, Bandung — gedung tiga lantai yang menjadi pusat aktivitas PSS hingga kini.
PSS terus mengembangkan kajian, digitalisasi koleksi, dan kerja sama dengan perguruan tinggi untuk masa depan budaya Sunda.
Revitalisasi budaya Sunda dalam pengertian seluas-luasnya melalui kajian-kajian kritis dan interdisipliner terhadap berbagai aspek budaya lokal dalam konteks budaya global.
Empat pilar kegiatan yang menopang misi pelestarian dan pengembangan budaya Sunda.
Kajian bahasa, sastra, sejarah, dan naskah Sunda yang menjadi rujukan mahasiswa S1–S3, peneliti, dan penulis dari berbagai perguruan tinggi.
Jurnal ilmiah hasil penelitian tentang kesundaan yang tengah dikembangkan menuju jurnal internasional bekerja sama dengan perguruan tinggi.
Pengelolaan Perpustakaan Ajip Rosidi: buku, naskah, mikrofilm, dan buku digital yang terbuka untuk umum.
Program literasi budaya dan pengembangan akses digital koleksi melalui platform Gapura, agar khazanah Sunda terjangkau generasi baru.
Gedung tiga lantai di Jl. Garut No. 2, Bandung, menyimpan koleksi buku fiksi dan nonfiksi, naskah, mikrofilm, hingga buku digital — sebagian besar warisan koleksi pribadi Ajip Rosidi dan para budayawan Sunda. Terbuka untuk umum bagi siapa pun yang ingin mengkaji kesundaan.
Katalog dan koleksi digital Perpustakaan Ajip Rosidi kini dapat diakses melalui platform Gapura — gerbang digital khazanah pustaka Sunda dan Nusantara.